Selasa, 06 November 2018



Tidak mudah mengajak generasi muda untuk mencintai pertanian, di tengah gempitanya industrialisasi dan konsumerisme urban. Kemewahan gaya hidup masyarakat kota dan daya tarik industri menjadikan generasi muda berbondong-bondong meninggalkan sektor pertanian sebagai ladang kehidupannya. 

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan), sejak era pemerintahan Joko Widodo terus mentransformasi pertanian Indonesia menuju modernisasi dengan membagikan puluhan ribu alat dan mesin pertanian (alsintan) berbagai jenis dari mulai traktor pengolah tanah, transplanter benih padi, penyiang gulma, combine harvester atau alat panen padi yang dilengkapi dengan packing karung.
“Banyak manfaat yang diperoleh dengan mekanisasi atau modernisasi pertanian antara lain mempercepat proses penyiapan lahan sehingga mampu menyingkat waktu kegiatan usahatani antara lain guna mengejar ketersediaan air, mengurangi dan menurunkan biaya produksi budidaya pertanian khususnya padi sampai 40%, menyerempakkan kegiatan olah sawah, tanam dan panen sehingga dapat memotong siklus organisme penyakit tumbuhan (OPT),” terang Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Pending Dadih Permana.
Selain itu, manfaat mekanisasi pertanian juga untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja sektor pertanian yang jumlahnya makin menyusut belakangan ini. Meningkatkan efisiensi sumberdaya yaitu waktu, tenaga dan biaya, meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, Mengurangi resiko gagal panen dan berkurangnya produksi karena salah penanganan saat pasca panen. 
“Serta meningkatkan pendapatan petani secara umum dan meningkatkan luas tambah tanam padi sehingga produksi lebih meningkat, dengan mekanisasi" kata Pending Dadih.“Selain itu juga lebih bergengsi di mata publik karena bekerja dengan menggunakan alat dan mesin pertanian serta memberikan tantangan lebih besar kepada kaum muda,” katanya.

Usaha pertanian lebih mudah menggaet kaum muda masuk bidang pertanian karena alasan mampu memberikan pendapatan yang semakin layak sekitar 60 juta per tahun dari lahan 1 Ha. Pria yang juga pernah menjabat Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementan ini menilai, seiring berjalannya waktu, perubahan struktur sosial di bidang pertanian akan berjalan terus. Tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian akan terus menyusut sehingga sektor ini kekurangan tenaga kerja dan upah tenaga kerja semakin mahal. Struktur kepemilikan lahan juga akan terus berubah seiring berjalannya sistem waris, karena itu rekonstruksi kepemilikan lahan akan terus terjadi perubahan. 
“Oleh karena itu, modernisasi sistem pertanian berbasis alsintan akan menjadi solusi yang bagus untuk mengantisipasi transformasi di bidang pertanian tersebut,” ujarnya.
Terobosan yang dilakukan Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan menggalakkan alsintan dan modernisasi sistem budidaya pertanian khususnya dalam UPSUS Padi, Jagung dan Kedelai, menurut beberapa petani muda yang sekarang terjun di bidang pertanian, dengan penggunaan alsintan mampu memberikan gairah baru kepada kaum muda untuk tidak lagi malu dan gengsi berkiprah di bidang pertanian.
Dengan menerapkan sistem pertanian modern dan menggunakan alsintan modern, hasil yang didapatkan pun lebih besar dan lebih menguntungkan sehingga mampu memberikan jaminan kehidupan yang lebih baik. 
“Karena itu, kaum muda lebih bersemangat dalam menjalankan usaha tani. Mereka tidak lagi ragu menggantungkan harapan dan masa depannya dengan bertani.
Sekarang bertani adalah profesi bergengsi, prospeknya bagus dan menguntungkan. Bertani bisa menjadi solusi,” tukas Pending Dadih.

Anggaran pembangunan pertanian klikdisini

Sumber: 
  1. http://maklumat.id/2017/07/mendorong-petani-muda-bertani-dengan-pertanian-modern/
  2. https://tirto.id/pertanian-ramah-lingkungan-bYbv


0 komentar:

Posting Komentar

Halaman

JAM

Waktu di Jakarta:

CUACA

Hari, tanggal

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Kontributor

Popular Posts

Blog Archive